EUR/USD 1.088   |   USD/JPY 155.870   |   GBP/USD 1.271   |   AUD/USD 0.670   |   Gold 2,425.16/oz   |   Silver 32.46/oz   |   Wall Street 39,806.77   |   Nasdaq 16,685.97   |   IDX 7,266.69   |   Bitcoin 66,278.37   |   Ethereum 3,071.84   |   Litecoin 82.22   |   AUD/JPY bergerak di bawah 104.50 setelah Tiongkok memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, 12 jam lalu, #Forex Teknikal   |   USD/CHF berada di Sekitar 0.9100 dengan sentimen positif, 12 jam lalu, #Forex Teknikal   |   GBP/USD dapat terkoreksi lebih rendah jika gagal menembus level 1.2700, 12 jam lalu, #Forex Teknikal   |   Potensi bullish EUR/USD masih ada menjelang pidato The Fed, 12 jam lalu, #Forex Fundamental   |   PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp1.1 miliar dari capaian laba bersih tahun buku 2023, 18 jam lalu, #Saham Indonesia   |   PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) bakal membagikan dividen kepada pemegang sahamnya senilai Rp129.38 miliar, 18 jam lalu, #Saham Indonesia   |   PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) akan membagikan tambahan dividen tunai sebesar Rp482.43 miliar dengan cum date jatuh pada hari ini, 18 jam lalu, #Saham Indonesia   |   S&P 500 naik 0.1% menjadi 5,334, sementara Nasdaq 100 naik 0.1% menjadi 18,661 pada pukul 19:23 ET (23:23 GMT). Dow Jones naik 0.1% menjadi 40,179, 18 jam lalu, #Saham AS

Dolar AS Tertekan Antisipasi Stimulus Biden Dan Menkeu Yellen

Penulis

Dolar AS tertekan akibat antisipasi stimulus fiskal yang melambungkan aset-aset high risk. Namun, sebenarnya ada ketidakpastian dalam rencana stimulus tersebut.

Seputarforex - Pound menguat lebih lanjut sekitar 0.3 persen ke kisaran 1.3700-an versus USD pada awal sesi Eropa hari ini (21/Januari). Dolar AS tertekan terhadap mayoritas mata uang mayor lain pada hari pertama pemerintahan Presiden AS Joe Biden, karena Amerika Serikat kemungkinan akan segera meluncurkan stimulus fiskal senilai USD1.9 triliun. Akan tetapi, sebenarnya masih ada ketidakpastian terkait rencana stimulus tersebut.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Presiden AS Joe Biden menghabiskan jam-jam pertamanya pasca inaugurasi di Gedung Putih dengan membatalkan sederet kebijakan pendahulunya, Donald Trump. Ia memerintahkan penghentian pendirian tembok di perbatasan AS-Meksiko, bergabungnya kembali AS ke Paris Agreement, serta penggunaan masker pada properti pemerintah federal; sesuai dengan janji-janjinya selama kampanye.

Antusiasme pasar pun semakin meningkat untuk realisasi rencana stimulus senilai USD1.9 triliun yang dijanjikannya. Apalagi calon Menteri Keuangan AS Janet Yellen telah menyatakan dukungannya bagi stimulus fiskal masif berjuluk "Rencana Penyelamatan Amerika" itu. Namun ada kemungkinan Kongres AS gagal mengesahkannya, atau mengesahkan stimulus bernilai lebih rendah. Risiko muncul lantaran partai Demokrat yang mendukung Biden tidak menguasai kursi mayoritas mutlak di Senat.

"Kami masih skeptis hasil final akan jauh lebih besar dari USD1 triliun, karena pengesahannya kemungkinan membutuhkan dukungan dari sedikitnya 10 Senator Republikan," kata Jim O'Sullivan, Kepala Strategi Makro AS di TD Securities.

Apabila ekspektasi stimulus USD1.9 Triliun itu tidak terealisasi seutuhnya, kekecewaan pasar berpotensi memicu kejatuhan saham dan aset-aset berisiko lebih tinggi lain seperti GBP versus USD. Tapi sejumlah analis menilai situasi itu hanya akan berlangsung sementara, karena arah kebijakan Yellen bakal menekan kurs dolar AS dalam jangka waktu lebih panjang.

"Di The Fed, dia (Yellen) terus menerus mengambil kebijakan (suku bunga rendah dan Quantitative Easing) untuk mendorong full-employment, artinya kita sudah tahu, rekam jejaknya membuktikannya, bahwa ia siap untuk mengeluarkan uang (untuk mendorong pertumbuhan ekonomi -red)," kata Nigel Green, Kepala Eksekutif deVere Group, "Dengan dipandu Yellen dan dengan perekonomian yang butuh injeksi (stimulus), saya kira kita dapat mengharapkan anggaran masif yang dikombinasikan dengan suku bunga ultra-rendah untuk bertahun-tahun."

Download Seputarforex App

295013
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.